RSS

makalah kasus minamata

17 Jul

BAB I.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Lingkungan adalah tempat makhluk hidup tinggal, beraktifitas, dan tempat meneruskan kehidupannya. Namun, ketika teknologi semakin canggih dan populasi manusia meningkat, kegiatan manusia sebagai makhluk yang paling berpotensi untuk memegang peranan terhadap lingkungan, melakukan banyak penyimpangan dan tanpa adanya kesadaran untuk tetap menjaga lingkungan karena mereka hanya berfikir bagaimana cara berjuang untuk tetap hidup. Penyimpangan-penyimpangan dan manipulasi yang dilakukan oleh manusia itu akan menyebabkan berbagai dampak negatif, contohnya kerusakan alam, pencemaran lingkungan, dan punahnya populasi satwa dan fauna langka, dan yang lebih menakutkan adalah akibat dari manipulasi-manipulasi manusia itu sendiri yaitu, menggangu kesehatan dan menyebabkan kematian manusia itu sendiri dan orang lain. Dari sekian banyak kerusakan yang ada, yang paling sering terjadi adalah pencemaran alam, baik pencemaran udara, pencemaran air, maupun pencemaran tanah.
Pencemaran air atau laut yang paling besar pernah terjadi pada teluk Minamata (Jepang) yang sangat banyak memakan korban. Pencemaran tersebut terjadi karena adanya logam berat merkuri yang mencemari lingkungan yang berasal dari PT Chisso yang memproduksi berbagai jenis produk dari pewarna kuku sampai peledak. Dengan dukungan militer, industri ini merajai industri kimia, dan dengan leluasa membuang limbahnya ke teluk Minamata. Diperkirakan 200-600 ton Hg dibuang selama tahun 1932-1968. Selain merkuri limbah PT Chisso juga berupa mangan. Thalium, dan Selenium., sehingga menyebabkan masalah yang sangat serius, terutama bagi masyarakat sekitar teluk tersebut. Penyakit yang ditimbulkan oleh pencemaran oleh teluk Minamata ini dikenal dengan nama penyakit Minamata. Penyakit minamata pertama ditemukan di Kumamoto tahun 1956, dan tahun 1968 Jepang menyatakan penyakit ini disebabkan pencemaran pabrik Chisso Co. Ltd. Penyakit Minamata terjadi akibat banyak mengkonsumsi ikan dan kerang dari Teluk Minamata yang tercemar Methyl-Hg atau disebut metil merkuri (methylmercury). Metil merkuri yang masuk tubuh manusia akan menyerang sistem saraf pusat, akibatnya terjadi degenerasi sel-sel syaraf pada otak kecil, sarung selaput syaraf dan bagian otak yang mengatur penglihatan. Penderitanya mengalami kesemutan (paresthesia), gangguan bicara, hilang daya ingat, ataxia dan kelainan syaraf lainnya. Gejala-gejala dapat berkembang lebih buruk menjadi seperti kesulitan menelan, kelumpuhan, kerusakan otak, dan kematian. Penderita kronis penyakit ini mengalami sakit kepala, sering lelah, hilang indera perasa dan penciuman, dan menjadi pelupa. Para penderita penyakit Minamata, menunjukan kadar Merkuri antara 200 sampai 500 mikrogram per liter darahnya. Sementara batasan aman menurut WHO antara lima sampai 10 mikrogram Merkuri per liter darah. Penelitian dr. Masazumi Harada pada tahun 1968, menunjukan timbunan logam berat Merkuri ini, diturunkan dari ibu kepada bayinya melalui plasenta. Yang juga menarik, kasus diturunkannya kadar Merkuri dari ibu ke anak, ternyata hanya terjadi di kawasan Minamata.
Sangat tragis akibat yang terjadi karena pencemaran yang dilakukan oleh manusia itu sendiri, yang tak lain digunakan untuk mempertahankan hidup sehingga mengesampingkan hal-hal yang pada akhirnya akan berakibat sangat fatal. Dari kenyataan yang telah ada, apakah kita siap melihat saudara atau teman kita terserang minamata? Atau apakah kita rela generasi yang akan datang banyak yang menderita minamata? Apakah kita akan tetap membiarkan diri kita mengkonsumsi merkuri tiap hari? Apakah kita akan tetap membiarkan air yang mengalir dan masuk kedalam tubuh kita membawa merkuri yang pada akhirnya membuat anak cucu kita terlahir cacat?
Perumusan Masalah
Dari berbagai pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh aktifitas manusia, salah satu fakta yang telah terjadi adalah pencemaran teluk Minamata yang berada di Jepang yang disebabkan adanya limbah logam berat hasil produksi PT. Chiso berupa metal merkuri yang dibuang ke teluk Tersebut. Mengakibatkan penyakit Minamata, yaitu penyakit yang menyerang system saraf, dan berakhir dengan kematian. Mengingat besarnya dampak negative yang disebabkan oleh pencemaran tersebut maka dapat dirumuskan suatu permasalahan penyebab terjadinya tragedi Minanata, dan akibat yang dihasilkan.
Tujuan
Tujuan Umum
Tujuan umum dari pembuatan paper yang berjudul “Logam berat penyebab tragedi Minamata” adalah untuk membahas pencemaran lingkungan di teluk Minamata yang diakibatkan oleh logam berat akibat aktifitas manusia, yang menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat di sekitar teluk tersebut.
Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari pembuatan paper ini adalah untuk memenuhi syarat ujian pada mata kuliah kimia lingkungan.
BAB II.
MATERI
Pencemaran laut, adalah masuknya atau dimasukannya zat atau energi oleh manusia baik secara langsung maupun tak langsung ke dalam lingkungan laut yang menyebabkan efek merugikan karena merusak sumberdaya hayati, membahayakan kesehatan manusia, menghalangi aktivitas di laut termasuk perikanan, pariwisata, dll, serta menurunkan mutu air laut yang digunakan dan mengurangi kenyamanan di laut (GESAMP, Group of Experts on Scientific Aspects on Marine Pollution, 2002).
Pencemaran umumnya berasal dari limbah rumah tangga, limbah pabrik, buangan termis, limbah pabrik bahan makanan dan limbah industri organik lain atau sisa-sisa pengolahan bahan organik. Demikian halnya dengan sampah-sampah yang non-biodegradable (tidak terurai) misalnya plastik, serat-serat sintetik, pestisida, minyak bumi, senyawa-senyawa logam berat dan senyawa-senyawa lain yang umumnya dihasilkan industri modern yang setiap saat bertambah banyak macamnya. Bahan pencemar ini jika terkontaminasi ke perairan akan terakumulasi dalam tubuh organisme (biomagnifikasi) kemudian akan terbawa ke dalam sistem rantai makanan yang dapat pula secara langsung mematikan organisme yang tak bisa mentolerirnya. Pada faktanya pencemaran tetap akan merugikan manusia sebagai (top predator) dalam sistem rantai makanan. Bahan pencemar yang masuk ke lingkungan perairan walaupun melewati berbagai perlakuan tetaplah merupakan sampah. Hal ini terus menumpuk seiring dengan berjalannya waktu, sampai pada suatu saat manusia menyadari dan merasakan dampak negatif yang diakibatkannya.
a. Definisi Mercury
Mercury merupakan suatu bahan pencemar yang sangat berbahaya, walaupun Mercury merupakan suatu nama yang bagus untuk didengar. Zat bernama Mercury (Hg) ini merupakan zat paling mudah untuk larut di dalam air, namun senyawa yang dihasilkan yaitu metal merkuri merupakan senyawa non polar yang tidak dapat larut dalam tubuh, sehingga menyebabkan pengendapan di dalam tubuh dan menyebabkan keracunan. Merkuri banyak digunakan dalam industri seperti termometer, tambal gigi, baterai, dan soda kaustik. Merkuri dapat pula bersenyawa dengan khlor, belerang, dan oksigen senyawa untuk membentuk garam merkurium yang sering digunakan dalam industri krim pemutih kulit. Ada tradisi beberapa masyarakat yang menggunakan karbon di dalam baterei untuk lantai rumahnya. Di alam, logam merkuri dapat ditransformasikan menjadi bentuk senyawa metil merkuri. Konsentrasi merkuri di udara biasanya rendah dan jarang menjadi sumber permasalahan, berbeda ketika memasuki perairan. Pada perairan merkuri dengan mudah berikatan dengan unsur kimia khlor. Ikatan dengan ion khlor akan membentuk merkuri anorganik yang mudah masuk ke dalam plankton dan dapat berpindah ke biota laut lain, seperti plankton, karang, ikan, dan sebagainya.
b. Tragedi Minamata
Sebenarnya, ada kasus pencemaran Mercury yang gaungnya sangat menghentak. Kasus ini disebut tragedi Minamata. Imbas dari industrialisasi di Jepang, membuat Teluk Minamata menjadi bak sampah raksasa. Logam berat mencemari teluk cantik itu, termasuk di dalamnya tercemar pula oleh Methyl Mercury. Tak kurang, penduduk dari dua wilayah di pesisir Minamata, yaitu propinsi Kumamoto dan Kagoshima menjadi korban Mercury.
c. Geografis Teluk Minamata
Teluk Minamata merupakan teluk kecil dengan luas 2,092,000 m persegi yang terletak di Laut Shiranui atau Laut Yatsushiro di pantai barat Pulau Kyushu. Lingkungan laut Shiranui (bagian utara) atau dikenal juga dengan laut Yatsushiro (bagian selatan) merupakan tempat dimana penyakit Minamata ditemukan. Laut Shiranui/Yatshusiro dengan area 1,200 km persegi adalah perairan semi tertutup yang dikelilingi dan berhadapan langsung dengan kepulauan Amakusa yang memiliki 120 pulau dengan 3 pulau terbesarnya yaitu Amakusa Shimosima, Amakusa Kamishima dan pulau Ohyano. Laut Shiranui ini terhubung dengan Laut Amakusanada yang merupakan bagian dari Lautan Cina Timur hanya dengan beberapa selat kecil dengan selat terbesarnya kurang lebih 1,5 km memisahkan antara pulau Amakusa Shimoshima dan pulau Nagashima. Laut Shiranui/Yatshushiro dikenal juga sebagai Laut Mediteranian-nya Jepang dan dahulunya melimpah dengan hasil laut seperti ikan, moluska. Usaha perikanan merupakan industri kunci di daerah ini dan sekurang-kurangnya 200,000 orang bekerja dalam usaha perikanan dan usaha yang terkait di sekitar laut tersebut. Bertahun-tahun lamanya penduduk disekitar laut tersebut hidup dari hasil laut Shiranui yang sekurang-kurangnya memakan ikan 500 gram sehari. Demikian halnya di sungai Agano, Niigata, (kasus kedua penyakit Minamata) penduduk setempat juga memakan ikan air tawar disana dalam jumlah yang banyak.
Desa Minamata secara resmi dikenal pada tahun 1889, desa ini terletak di bagian selatan Kumamoto prefecture dan berbatasan langsung dengan Kagoshima Prefecture. Seiring dengan perkembangan desa dan pembangunannya, maka pada tahun 1949 Minamata telah berkembang menjadi sebuah kota. Pertengahan tahun 1908, perusahaan Sogi Electric dan Nippon Carbide bergabung membentuk Nippon Nitrogen Fertilizer (cikal bakal Chisso company) yang kemudian beroperasi pertama kali pada tahun 1932 dengan menggunakan acetaldehid (acetic acid facilities), dan di tahun 1941 memproduksi vinyl chloride. Di tahun 1950, Nippon Nitrogen Fertilizer menganti nama menjadi Shin Nippon Chisso Fertilizer Co., Ltd. Chisso berarti nitrogen, dan perusahaan ini merupakan perusahaan raksasa kimia terbesar di Jepang dan menguasai pasaran dunia sampai hari ini.
d. Penyebab Tragedi Minamata
Penyakit Minamata pertama kali ditemukan di kota Minamata, Prefecture/Provinsi Kumamoto Japan di tahun 1956 (Minamata Disease Research Group; 1968, Harada M; 1995), dan berikutnya di temukan di Kota Niigata City, Niigata Prefecture, Japan, di tahun 1965 (Tsubaki T & Irukayama K; 1977). Kedua kasus ini dihubungkan dengan Merkuri (Hydragyricum : Hg) sebagai katalis yang umumnya digunakan dalam proses produksi asetaldehida (acetaldehyde). Asetaldehida (CH3COOH) digunakan sebagai bahan mentah untuk pembuatan produk seperti plastik, obat-obatan, cuka, fiber dan produk lain. Walaupun anorganik merkuri yang digunakan sebagai katalisator, namun sistemnya merubah bentuk anorganik merkuri tersebut menjadi organik (metil) merkuri. Dengan kata lain merkuri anorganik dapat ter-metilasi menjadi merkuri organik di sedimen perairan. Pada biota laut merkuri anorganik mengalami perubahan menjadi merkuri organik (metil merkuri). selain itu kondisi asam dan kadar ozon pada perairan mendorong aktivitas bakteri mengubah merkuri menjadi metil merkuri.
e. Dampak Pencemaran Teluk Minamata
Dengan demikian, organik (metil) merkuri telah terkontaminasi di perairan sekalipun yang dibuang adalah anorganik merkuri (National Institute of Minamata Disease, 2001). Kasus ini merupakan kasus pertama dimana Merkuri ditransfer masuk dalam rantai makanan dari lingkungan laut yang tercemar. Metil merkuri dan substansi racun lainnya yang telah terakumulasi pada ikan dan moluska. Ikan-ikan yang telah terkontaminasi menjadi ancaman kesehatan serius bagi manusia ketika rantai makanan itu menyambung ke manusia. Sekali berada dalam tubuh, metal merkuri sangat lambat tercuci. Oleh sebab itu, memakan ikan yang tercemar metil merkuri dengan dosis di bawah ambang pun, jika dilakukan dalam jangka waktu lama, akan meningkatkan jumlah merkuri di dalam tubuh.
Pada tubuh manusia metil merkuri menyebar ke seluruh jaringan terutama darah dan otak. Sekitar 90 persen ditemukan dalam darah merah dan sisanya diekskresikan melalui empedu ke tinja juga urine. Metil merkuri memasuki tubuh manusia melalui tiga cara, yaitu melalui kulit, inhalasi (pernafasan) maupun lewat makanan. Bila masuk melalui kulit akan menyebabkan reaksi alergi kulit berupa iritasi kulit. Reaksinya tidak terlalu lama, cukup mandi beberapa kali pada air yang tercemar merkuri, kulit pun akan segera mengalami iritasi. Konsentrasi metil merkuri ditemukan pada ginjal, hati, dan otak. Selain itu juga nephritis, efek-efek saraf dan jantung. Pada keracunan akut dapat menimbulkan gangguan sistem saluran pencernaan dan pernafasan. Metil merkuri juga dapat menembus blood brain barrier dan menimbulkan kerusakan di otak. (Jusak Ratundelang Pahlano DAUD, 2004)
Metil merkuri yang masuk tubuh manusia akan menyerang sistem saraf pusat, akibatnya terjadi degenerasi sel-sel syaraf pada otak kecil, sarung selaput syaraf dan bagian otak yang mengatur penglihatan. Penderitanya mengalami kesemutan (paresthesia), gangguan bicara, hilang daya ingat, ataxia dan kelainan syaraf lainnya. Gejala-gejala dapat berkembang lebih buruk menjadi seperti kesulitan menelan, kelumpuhan, kerusakan otak, dan kematian. Penderita kronis penyakit ini mengalami sakit kepala, sering lelah, hilang indera perasa dan penciuman, dan menjadi pelupa. Penyakit Minamata tidak menular atau menurun secara genetis. Selain itu, penyakit Minamata juga tidak dapat diobati, usaha perawatan sebatas mengurangi gejala dan terapi rehabilitasi fisik. (Tri Wahyuni, 2008).
f. Penanggulangan
Mei 1956 secara resmi Direktur Rumah Sakit Chisso melaporkan ke pusat Kesehatan Masyarakat Minamata banyaknya pasien dengan gejala kerusakan sistem saraf. Perempuan kakak beradik 5 dan 2 tahun yang tinggal di Minamata merupakan pasien pertama yang mengalami dyskinesia (kesulitan bergerak) dan kejang-kejang. Enam bulan kemudian, Tim peneliti dari Universitas Kumamoto membuktikan bahwa penyakit aneh tersebut disebabkan karena makan ikan dan moluska yang terdapat di teluk Minamata, teluk kecil di laut Shiranui. Penelitian yang sama dengan didukung tim kementerian kesehatan Jepang di tahun 1957 juga memperkuat hasil penelitian ini. Walau demikian tidak ada langkah konkrit untuk mengatasi sumber masalah ini. 17 Januari 1957, Koperasi Perikanan Minamata meminta perusahaan Chisso untuk menghentikan buangan limbahnya, dan pada bulan yang sama para nelayan meminta pemerintah dalam hal ini Gubernur Kumamoto untuk segara mengambil langkah yang perlu mencegah pencemaran yang telah terjadi. Pada saat itu 54 korban telah teridentifikasi mendapat penyakit aneh karena pencemaran dan 17 diantaranya meninggal. Namun, pihak pemerintah Kumamoto dan Kementrian Perdagangan dan Industri tetap mengizinkan Chisso beroperasi dan membuang limbahnya dengan alasan penyakit aneh tersebut tidak ada hubungannya dengan pencemaran. Pada saat bersamaan Kementrian Kesehatan menolak proposal untuk mengundang-undangkan peraturan sanitasi makanan dimana dilarang menjual ikan dan moluska dari teluk Minamata. Hal ini beralasan, karena terdapat keraguan yang mana ikan dan moluska di teluk Minamata telah tercemar atau tidak. Di lain pihak pemerintah berusaha mengabaikan berita bencana tersebut agar tidak tersebar luas. Limbah terus dibuang lewat kanal kecil yang bermuara ke teluk Minamata, tanpa larangan menangkap ikan disitu dan nelayan tetap melanjutkan kehidupannya dengan ikan hasil tangkapan mereka. Padahal limbah yang dibuang ke teluk itu telah terakumulasi di dalam tubuh ikan dan moluska. Karena sulitnya membedakan yang mana ikan yang terkontaminasi dan yang tidak, masyarakat tetap memakan ikan sampai gejala penyakit itu muncul. Sejak September 1958, Chisso mengalihkan saluran buangannya ke laut Shiranui/Yatshusiro lewat kolam sedimentasi di delta sungai Minamata. Sejak April 1959, masyarakat pesisir sepanjang laut Shiranui, bukan hanya di Minamata merasakan gejala sakit aneh. Kondisi ini terlihat juga pada hewan, dimana banyak kucing mati di desa-desa nelayan sepanjang laut Shiranui. Hal ini jelas merupakan kesalahan Chisso selanjutnya setelah mengalihkan buangannya melalui sungai minamata, sehingga tersebar keseluruh perairan Shiranui / Yatsushiro.
Pada 22 Juli, 1959, tim peneliti dari Universitas Kumamoto melaporkan bahwa berdasarkan atas penelitian yang telah dilakukan dan setelah memeriksa dan membandingkan laporan mengenai Hunter-Russel syndrome, mereka menyimpulkan bahwa yang menyebabkan penyakit minamata adalah merkuri organik. Berdasarkan hasil tersebut masyarakat pesisir meminta pembuangan limbah ke laut Shiranui dihentikan dan perusahaan ditutup. Chisso dan kementrian Perdagangan dan Industri menggunakan berbagai cara secara politik untuk mengaburkan hasil penelitian tersebut. Dari fakta tersebut ternyata pencemaran sangat merugikan manusia dan telah mengancam berbagai Negara dunia. Hal ini terlihat dengan banyaknya sample-sampel yang sementara diteliti di National Institut of Minamata Disease. Biaya yang dikeluarkan untuk penelitian, restorasi dan kompensansi ternyata lebih besar dari biaya pembangunan dan keuntungan yang didapat. Laut yang berfungsi sebagai sumberdaya perairan, menjadi tidak berfungsi lagi sesuai peruntukkannya. Mencermati dan bercermin dari bencana Minamata ini adalah merupakan pelajaran berharga bagi kita manusia. Negara Jepang yang pada saat itu bergerak bangkit akibat kekalahannya di perang dunia II, mengadopsi teknologi dan berusaha sendiri untuk mengeksploitasi sumberdaya alam dengan pengorbanan lingkungan serta manusia didalamnya. Kontras dengan apa yang terjadi di Indonesia, dimana eksplorasi sumberdaya alam dilakukan pihak luar dengan kemampuan teknologi yang dimilikinya namun mengorbankan lingkungan yang bukan miliknya. Ironis, Kekayaan yang kita miliki bukan dieksploitasi oleh kita sendiri namun oleh orang luar.(Jusak Ratundelang Pahlano DAUD, 2004). Sudah saatnya pemerintah ataupun wakil-wakil rakyat belajar mencermati dan memantau lingkungan, tidak hanya sekedar duduk berpangku tangan, memikirkan keuntungan diri sendiri serta mengejar kedudukan. Pemerintah seharusnya lebih aktif dan peka terhadap lingkungan seperti halnya pengelolaan limbah dan sampah terutama limbah berbahaya dan beracun. Limbah-limbah pabrik dan pusat pertokoan yang dewasa ini meningkat seiring dengan pembangunan perlu diawasi secara ketat mengenai jenis limbah, prosedur keamanan dan lokasi pembuangannya. Demikian pula sampah, tidak hanya dilakukan penegakan hukum namun pemerintah seharusnya memberi alternatif dan fasilitas bagi penyalurannya. Pemisahan sampah sesuai jenisnya sejak awal dilakukan di rumah-rumah, pasar, pusat-pusat pertokoan, sekolah dan di kantor. Selain hal tersebut mendidik, masyarakat akan tahu mana jenis sampah yang bisa didaur (recycling) ataupun yang tidak bisa. Pemantauan dan penanganan sampah di muara-muara sungai perlu diadakan untuk mencegah sampah masuk ke laut dari aliran-aliran sungai. Selain untuk kebersihan hal-hal tersebut juga untuk keindahan lingkungan yang kita diami. Bagaimanapun juga, memang berbagai aspek pembangunan yang menghasilkan sampah memiliki andil yang sangat besar terhadap perubahan lingkungan. Bagaimana cara manusia menghargai lingkungan ciptaan TUHAN, bagaimana cara dimana manusia menggunakan sekaligus mengabaikannya, dan bagaimana cara dimana manusia berusaha melindunginya terus-menerus senantiasa akan tetap mengalami perubahan ruang seiring berjalannya waktu. Hal ini terus menumpuk seiring dengan berjalannya waktu, sampai pada suatu saat manusia menyadari dan merasakan dampak negatif yang akan diakibatkannya. (Jusak Ratundelang Pahlano DAUD, 2004).
I.DDT
DDT (Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane) adalah salah satu yang dikenal pestisida sintetis. Ini merupakan bahan kimia yang panjang, unik, dan sejarah kontroversial.
Synthesized pertama di 1874, DDT’s insecticidal properti tidak ditemukan sampai 1939. Dalam paruh kedua Perang Dunia II, telah digunakan dengan dampak yang luar biasa di antara kedua-dua penduduk sipil dan militer untuk mengendalikan penyebaran nyamuk malaria dan kutu transmisi tipus, mengakibatkan penurunan dramatis dalam insiden kedua penyakit. Swiss chemist Paul Hermann Müller dari Geigy Pharmaceutical dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Physiology Pengobatan atau di 1948 “untuk penemuan tingginya efisiensi DDT sebagai racun kontak terhadap beberapa arthropods Setelah perang, DDT telah tersedia untuk digunakan sebagai insektisida pertanian, dan segera produksinya dan menggunakan skyrocketed.
Pada tahun 1962, Silent Spring oleh American biologi Rachel Carson telah diterbitkan. Buku di katalog lingkungan dampak dari sembarangan penyemprotan DDT di Amerika Serikat dan pertanggungjawaban logika melepaskannya dari banyak bahan kimia ke dalam lingkungan tanpa sepenuhnya pemahaman mereka terhadap ekologi atau kesehatan manusia. Buku yang disarankan DDT dan pestisida dapat menyebabkan kanker dan pertanian yang mereka gunakan merupakan ancaman bagi satwa liar, terutama burung. Publikasi-nya adalah salah satu tanda tangan dalam peristiwa kelahiran gerakan lingkungan hidup. Diam Spring menghasilkan besar masyarakat yang gaduh akhirnya menyebabkan paling pantas atas DDT yang dilarang di AS pada 1972. [4] DDT kemudian dilarang digunakan untuk pertanian di seluruh dunia di bawah Konvensi Stockholm, namun terbatas dalam menggunakan penyakit vector kontrol terus
Seiring dengan petikan dari Endangered Species Act, Amerika Serikat pada ban DDT adalah dikutip oleh para ilmuwan sebagai faktor utama dalam cerdas dari bald eagle berdampingan di Amerika Serikat.
DDT adalah insektisida organochlorine, mirip dalam struktur ke dicofol dan pestisida methoxychlor. Ini adalah sangat hydrophobic, warna, kristal kuat dengan yang lemah, bau kimia. Yg tdk dpt ia hampir dalam air tetapi kelarutan yang baik di sebagian besar larutan organik, Fats, dan minyak. DDT tidak terjadi secara alami, namun yang dihasilkan oleh reaksi dari khloral (CCl3CHO) dengan chlorobenzene (C6H5Cl) di hadapan sulfuric acid, yang bertindak sebagai katalisator. DDT nama dagang yang telah dipasarkan di bawah termasuk Anofex, Cezarex, Chlorophenothane, Clofenotane, Dicophane, Dinocide, Gesarol, Guesapon, Guesarol, Gyron, Ixodex, Neocid, Neocidol, dan Zerdane.

A.Isomer dan Terkait
DDT komersial sebenarnya campuran dari beberapa erat kaitannya compounds. Komponen utama (77%) adalah p, p isomer yang digambarkan di atas artikel ini. , O, p ‘isomer (digambarkan di sebelah kanan) juga hadir dalam jumlah yang signifikan (15%). Dichlorodiphenyldichloroethylene (DDE) dan dichlorodiphenyldichloroethane (es) membentuk keseimbangan. DDD DDE dan juga yang besar dan metabolites kemogokan produk DDT di lingkungan. [3] Istilah “total DDT” sering digunakan untuk merujuk kepada jumlah semua terkait DDT compounds (p, p-DDT, o, p – DDT, DDE,dan pakaian dalam sampel.
B.Mekanisme aksi
DDT adalah racun cukupan, dengan tikus LD50 dari 113 mg / kg. [12] Hal ini berpengaruh insecticidal properti, dimana kills membuka saluran ion sodium di neurons, sehingga mereka ke api yang mengarah ke spasms spontan dan akhirnya mati. Serangga tertentu dengan mutations di saluran sodium gene yang tahan terhadap DDT dan insektisida sejenis lainnya. DDT tahan juga conferred oleh up-peraturan mengekspresikan gen cytochrome P450 dalam beberapa jenis serangga.
DDT (Dichloro Diphenyl Trichlorethane) adalah insektisida “tempo dulu” yang pernah disanjung “setinggi langit” karena jasa-jasanya dalam penanggulangan berbagai penyakit yang ditularkan vektor serangga. Tetapi kini penggunaan DDT di banyak negara di dunia terutama di Amerika Utara, Eropah Barat dan juga di Indonesia telah dilarang. Namun karena persistensi DDT dalam lingkungan sangat lama, permasalahan DDT masih akan ber¬lang¬sung pada abad 21 sekarang ini. Adanya sisa (residu) insektisida ini di tanah dan perairan dari penggunaan masa lalu dan adanya bahan DDT sisa yang belum digunakan dan masih tersimpan di gudang tempat penyimpanan di selurun dunia (termasuk di Indonesia) kini meng¬hantui mahluk hidup di bumi. Bahan racun DDT sangat persisten (tahan lama, berpuluh-puluh tahun, bahkan mungkin sampai 100 tahun atau lebih?), bertahan dalam lingkungan hidup sambil meracuni ekosistem tanpa dapat didegradasi secara fisik maupun biologis, sehingga kini dan di masa mendatang kita masih terus mewaspadai akibat-akibat buruk yang diduga dapat ditimbulkan oleh keracunan DDT.
C.Bahaya toksisitas DDT terhadap ekosistem
Pada tahun 1962 Rachel Carson dalam bukunya yang terkenal, Silenty Spring menjuluki DDT sebagai obat yang membawa kematian bagi kehidupan di bumi. Demikian berbahayanya DDT bagi kehidupan di bumi sehingga atas rekomendasi EPA (Environmental Protection Agency) Amerika Serikat pada tahun 1972 DDT dilarang digunakan terhitung 1 Januari 1973. Pengaruh buruk DDT terhadap lingkungan sudah mulai tampak sejak awal penggunaannya pada tahun 1940-an, dengan menurunnya populasi burung elang sampai hampir punah di Amerika Serikat. Dari pengamatan ternyata elang terkontaminasi DDT dari makanannya (terutama ikan sebagai mangsanya) yang tercemar DDT. DDT menyebabkan cang¬kang telur elang menjadi sangat rapuh sehingga rusak jika dieram. Dari segi bahayanya, oleh EPA DDT digolongkan dalam bahan racun PBT (persistent, bioaccumulative, and toxic) material.
Dua sifat buruk yang menyebabkan DDT sangat berbahaya terhadap lingkungan hidup adalah:
Sifat apolar DDT: ia tak larut dalam air tapi sangat larut dalam lemak. Makin larut suatu insektisida dalam lemak (semakin lipofilik) semakin tinggi sifat apolarnya. Hal ini merupakan salah satu faktor penyebab DDT sangat mudah menembus kulit
Sifat DDT yang sangat stabil dan persisten. Ia sukar terurai sehingga cenderung bertahan dalam lingkungan hidup, masuk rantai makanan (foodchain) melalui bahan lemak jaringan mahluk hidup. Itu sebabnya DDT bersifat bioakumulatif dan biomagnifikatif.
Karena sifatnya yang stabil dan persisten, DDT bertahan sangat lama di dalam tanah; bahkan DDT dapat terikat dengan bahan organik dalam partikel tanah.
Dalam ilmu lingkungan DDT termasuk dalam urutan ke 3 dari polutan organik yang persisten (Persistent Organic Pollutants, POP), yang memiliki sifat-sifat berikut:
tak terdegradasi melalui fotolisis, biologis maupun secara kimia,
-berhalogen (biasanya klor),
-daya larut dalam air sangat rendah,
-sangat larut dalam lemak,
-semivolatile,
-di udara dapat dipindahkan oleh angin melalui jarak jauh,
-bioakumulatif,
-biomagnifikatif (toksisitas meningkat sepanjang rantai makanan)
Di Amerika Serikat, DDT masih terdapat dalam tanah, air dan udara: kandungan DDT dalam tanah berkisar sekitar 0.18 sampai 5.86 parts per million (ppm), sedangkan sampel udara menunjukkan kandungan DDT 0.00001 sampai 1.56 microgram per meter kubik udara (ug/m3), dan di perairan (danau) kandungan DDT dan DDE pada taraf 0.001 microgram per liter (ug/L). Gejala keracunan akut pada manusia adalah paraestesia, tremor, sakit kepala, keletihan dan muntah. Efek keracunan kronis DDT adalah kerusakan sel-sel hati, ginjal, sistem saraf, system imunitas dan sistem reproduksi. Efek keracunan kronis pada unggas sangat jelas antara lain terjadinya penipisan cangkang telur dan demaskulinisasi
Sejak tidak digunakan lagi (1973) kandungan DDT dalam tanaman semakin menurun. Pada tahun 1981 rata-rata DDT dalam bahan makanan yang termakan oleh manusia adalah 32-6 mg/kg/hari, terbanyak dari umbi-umbian dan dedaunan. DDT ditemukan juga dalam daging, ikan dan unggas.
Walaupun di negara-negara maju (khususnya di Amerika Utara dan Eropah Barat) penggunaan DDT telah dilarang, di negara-negara berkembang terutama India, RRC dan negara-negara Afrika dan Amerika Selatan, DDT masih digunakan. Banyak negara telah mela¬rang penggunaan DDT kecuali dalam keadaan darurat terutama jika muncul wabah penyakit seperti malaria, demam berdarah dsb. Departeman Pertanian RI telah melarang penggunaan DDT di bidang pertanian sedangkan larangan penggunaan DDT di bidang kesehatan dilakukan pada tahun 1995. Komisi Pestisida RI juga sudah tidak memberi perijinan bagi pengunaan pestisida golongan hidrokarbon-berklor (chlorinated hydrocarbons) atau organoklorin (golongan insektisida di mana DDT termasuk).
D.Permasalahan
Walaupun secara undang-undang telah dilarang, disinyalir DDT masih juga secara gelap digunakan karena keefektifannya dalam membunuh hama serangga. Demikian pula, banyaknya DDT yang masih tersimpan yang perlu dibinasakan tanpa membahayakan ekosistem manusia maupun kehidupan pada umumnya merupakan permasalahan bagi kita. Sebenarnya, bukan saja DDT yang memiliki daya racun serta persistensi yang demikian lamanya dapat bertahan di lingkungan hidup. Racun-racun POP lainnya yang juga perlu diwaspadai karena mungkin saja terdapat di tanah, udara maupun perairan di sekitar kita adalah aldrin, chlordane, dieldrin, endrin, heptachlor, mirex, toxaphene, hexachlorobenzene, PCB (polychlorinated biphenyls), dioxins dan furans.
Untuk mengeliminasi bahan racun biasanya berbagai cara dapat digunakan seperti secara termal, biologis atau kimia/fisik. Untuk Indonesia dipertimbangkan untuk mengadopsi cara stabilisasi/fiksasi karena dengan cara termal seperti insinerasi memerlukan biaya sangat tinggi. Prinsip stabilisasi/fiksasi adalah membuat racun tidak aktif/imobilisasi dengan enkapsulasi mikro dan makro sehingga DDT menjadi berkurang daya larutnya. Namun permasalahan tetap masih ada karena DDT yang telah di-imobilisasi ini masih harus “dibuang” sebagai landfill di tempat yang “aman”. Namun dengan cara ini potensi racun DDT masih tetap bertahan untuk waktu yang lama pada abad 21 ini.
E.BAHAYA DDT PADA MAKHLUK HIDUP
Pada bulan Juli 1998, perwakilan dari 120 negara bertemu untuk membahas suatu pakta Persatuan Bangsa Bangsa untuk melarang penggunaan DDT sebagai insektisida dan 11 bahan kimia lainnya secara global pada tahun 2000. Amerika Serikat dan negara-negara industri lain menyetujui pelarangan ini karena bahan-bahan kimia ini adalah senyawa kimia yang persisten dimana senyawa-senyawa ini dapat terakumulasi dan merusak ekosistem alami dan memasuki rantai makanan manusia. Namun banyak negara tidak setuju dengan pelarangan DDT secara global karena DDT digunakan untuk mengkontrol nyamuk penyebab malaria. Malaria timbul di 90 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dan merupakan penyebab kematian dalam jumlah besar terutama daerah ekuatorial Afrika.
Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa 2.5 juta orang tewas setiap tahun akibat malaria dan ini kian terjadi di berbagai belahan dunia. Namun karena DDT begitu efektif dalam mengontrol nyamuk penyebab malaria, banyak ahli berpikir bahwa insektisida menyelamatkan lebih banyak jiwa dibandingkan bahan kimia lainnya.
DDT diproduksi secara massal pada tahun 1939, setelah seorang kimiawan bernama Paul Herman Moller menemukan dengan dosis kecil dari DDT maka hampir semua jenis serangga dapat dibunuh dengan cara mengganggu sistem saraf mereka. Pada waktu itu, DDT dianggap sebagai alternatif murah dan aman sebagai jenis insektisida bila dibandingkan dengan senyawa insektisida lainnya yang berbasis arsenik dan raksa. Sayangnya, tidak seorangpun yang menyadari kerusakan lingkungan yang meluas akibat pemakaian DDT.
Sebagai suatu senyawa kimia yang persisten, DDT tidak mudah terdegradasi menjadi senyawa yang lebih sederhana. Ketika DDT memasuki rantai makanan, ini memiliki waktu paruh hingga delapan tahun, yang berarti setengah dari dosis DDT yang terkonsumsi baru akan terdegradasi setelah delapan tahun. Ketika tercerna oleh hewan, DDT akan terakumulasi dalam jaringan lemak dan dalam hati. Karena konsentrasi DDT meningkat saat ia bergerak ke atas dalam rantai makanan, hewan predator lah yang mengalami ancaman paling berbahaya. Populasi dari bald eagle dan elang peregrine menurun drastis karena DDT menyebabkan mereka menghasilkan telur dengan cangkang yang tipis dimana telur ini tidak akan bertahan pada masa inkubasi. Singa laut di lepas pantai California akan mengalami keguguran janin setelah memakan ikan yang terkontaminasi.
Seperti yang terlihat pada diagram, DDT (diklorodifeniltrikloroetana) adalah senyawa hidrokarbon terklorinasi. Tiap heksagon dari struktur ini terdapat gugus fenil (C6H5-) yang memiliki atom klor yang mengganti satu atom hidrogen. Namun, perubahan kecil pada struktur molekularnya dapat membuat hidrokarbon terklorinasi ini aktif secara kimia.
Dengan memanipulasi molekul DDT dalam cara ini, kimiawan berharap untuk mengembangkan suatu insektisida yang efektif namun ramah lingkungan, dimana senyawa in akan mudah terdegradasi. Namun disaat bersamaan, para peneliti sedang menyelidiki cara lain untuk mengkontrol populasi nyamuk. Salah satu caranya adalah penggunaan senyawa menyerupai hormon yang menyebabkan nyamuk mati kelaparan, hingga dapat mengurangi populasinya hingga dapat mengurangi penyebaran malaria.
Para peneliti lingkungan dan pakar wabah penyakit mulai mengamati serius dampak unsur pengganggu itu sejak tiga dekade lalu. Mula-mula diketahui, racun pembunuh serangga yang amat ampuh dan digunakan secara luas membasmi nyamuk malaria, yakni DDT (dichlorodiphenytrichloroethane) memiliki dampak sampingan amat merugikan. DDT memiliki sifat larut dalam lemak. Karena itu, residunya terus terbawa dalam rantai makanan, dan menumpuk dalam jaringan lemak. Dari situ, sisa DDT mengalir melalui air susu ibu kepada anaknya, baik pada manusia maupun pada binatang. Binatang pemangsa mendapat timbunan sisa DDT dari binatang makanannya. Rantainya seolah tidak bisa diputus.
Pengamatan terhadap burung pemangsa menunjukkan, DDT menyebabkan banyak burung yang memproduksi telur dengan kulit amat tipis, sehingga mudah pecah. Selain itu, terlepas dari tebal tipisnya kulit telur, semakin banyak anak burung pemangsa yang lahir cacat. Penyebaran residu DDT bahkan diamati sampai ke kawasan kutub utara dan selatan. Anjing laut di kutub utara, banyak yang melahirkan anak yang cacat, atau mati pada saat dilahirkan. Penyebabnya pencemaran racun serangga jenis DDT.
Diduga, residu DDT pada manusia juga berfungsi serupa, yakni menurunkan kemampuan reproduksi. Atau menyebabkan cacat pada janin.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, H. M. Nur 21. 2004. Teluk Buyat Menuju Teluk Minamata.
Suara merdeka,senin 4 april 2005 Sekelumit tentang Penyakit Minamata
Wahyuni, Tri. 16 mei 2008. Minamata. pantarhei filsafat UGM

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 17, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: